Tips Budidaya Lele – Bermula dari budidaya 1.500 ekor lele, Tri Wahyudi kini mampu me – ma sarkan 1,5 juta-2 juta ekor benih lele per bulan ke berbagai sentra lele di Lampung, Sumsel, dan Jabar. Apa kiat pembudidaya lele dari Kec. Kotagajah, Kab. Lampung Tengah itu bertahan dalam bisnis lele yang terkenal untungnya tipis?

Anjuran Paman

Tri mengawali usaha budidaya lele pada 2000. Saat itu ia tengah bekerja sebagai canvasser makanan dan minuman ringan. Tri didorong pamannya untuk budidaya lele karena harganya sedang bagus. “Ya karena ndak enak sama paman, saya coba. Mana tahu garis tangan saja di sini,” kenangnya saat ditemui AGRINA barubaru ini. Awal budidaya Tri tidak mau budidaya dalam jumlah besar karena khawatir rugi. Apalagi, ia susah-payah mengumpulkan tabungan dari pekerjaan sebelumnya untuk terjun ke bisnis lele. Ia juga sama sekali tidak berpengalaman budidaya ikan dan pendidikannya pun hanya tamatan SMA. Pertama kali budidaya, pria kelahiran 10 September 1977 ini membesarkan 1.500 ekor benih lele pada sebuah kolam kecil di depan rumah.

Setelah tiga bulan dibe – sarkan, lele dipanen dengan keuntungan menggembirakan. “Hasilnya lumayan. Saat itu harga lele sedang bagus sehingga saya tertarik untuk melanjutkannya de – ngan benih yang lebih banyak. Akhirnya saya ketagihan dan berlangsung hingga kini,” lanjutnya semringah. Untuk meningkatkan pengetahuan, Tri mempelajari budidaya lele secara otodidak melalui buku dan pengalaman dari setiap siklus budidaya. “Pengalaman dan memahami kondisi lingkungan merupakan pelajaran yang berharga dalam menjalankan budidaya ikan,” tambahnya. Saat ini dari dua lokasi kolamnya, Tri bisa memanen 600 kg lele konsumsi setiap dua hari. Lele berukuran 8-12 ekor/kg itu dipasarkan di Lampung Tengah dan sebagian dikirim ke luar daerah.

Ekspansi Pembenihan

Suami Misyiah ini kemudian melakukan ekspansi usaha ke pembenihan lele pada 2010. Sebelum memulai, ia mengamati pembenihan yang dilakukan pembudidaya lainnya di Kotagajah. Rata-rata pembenih menggunakan induk lele lokal. Menurut pengalaman mereka, harga induk lokal dan benihnya lebih murah tapi rentan penyakit dan benih yang dihasilkan tidak sebanyak induk unggul. Dari situ Tri berkesimpulan harus menggunakan induk unggul. Selain benih yang dihasilkan lebih banyak, pertumbuhannya juga lebih cepat. Dia juga yakin benih unggul itu akan lebih laku meski dijual sedikit lebih mahal daripada benih lokal. Ayah satu anak ini kembali belajar sendiri tentang cara memijahkan lele. Induk jantan dan betina yang siap memijah, ia pindahkan ke kolam ukuran kecil dan dialasi ijuk. Telur yang dilepas – kan induk akan menempel ke ijuk.

Lalu, telur dipindahkan ke kolam tersendiri. Setelah tiga hari sejak menetas, benih lele diberi pakan cacing sutra selama 10 hari. Pada hari ke-11, baru diberi pakan pabrikan hingga benih berukuran 3-4 cm. Delapan tahun berlalu, Tri pun berhasil menjual sebanyak 1,5 juta-2 juta ekor benih lele per bulan ke berbagai daerah di Lampung, Sumsel (Palembang), dan Jabar (Bogor). “Jika dulu kita ambil benih dari Bogor, sekarang kita yang kirim ke sana,” ungkapnya bangga. Benih lele yang diproduksi berasal dari induk strain Mutiara, Sangkuriang, Thailand, dan Masamo. Ia menyilangkan induk Masamo yang fisiknya lebih kuat dengan strain lain yang pertumbuhannya lebih cepat. Benih hasil persilangan itu sa – ngat disukai pembudidaya karena ta han penyakit dan pertumbuhannya bagus. Ayah Reihan ini menjual benih berukuran 6-7 cm atau 350-450 ekor/kg. Harga benih ukuran 6 cm sebesar Rp175/ekor. Untuk mengembangkan usaha pembenihan, Tri menjalin kemitraan dengan pembenih lain. Selain membantu pengadaan pakan, ia juga membantu memasarkan benih yang mereka produksi. Sinergi tersebut sangat membantu pembenih pemula yang modalnya terbatas dan belum memiliki akses pasar.

Kiat Budidaya

Tri menerapkan sistem plankton dalam bu – didaya. Namun, pengukuran plankton baru sebatas kasat mata. Ia menggunakan probiotik sebelum budidaya untuk me num buh – kan plankton. Saat persiapan ko lam, ia juga memakai disinfektan guna membersihkan kolam dari sumber penyakit. Menurut Tri, penyakit yang sering mun – cul dalam pembenihan dan pembesaran lele adalah cacar yang disebabkan bakteri Aeromonas dan Pseudomonas. Lele yang terserang bakteri ini perutnya menggembung, terjadi pembengkakan pada pang – kal sirip, dan luka-luka di sekujur tubuh. Ada juga penyakit kuning yang umumnya menyerang lele ukuran 100 g/ekor. Gejalanya, nafsu makan turun, insang membusuk dan geripis, kulit dan organ lainnya berwarna kuning. “Kematian lele akibat penyakit ini cukup besar,” akunya. Untuk mencegah penyakit, Tri menggunakan ramuan herbal bawang putih yang dihaluskan. Air bawang ini lalu dicampur ke pakan. Selain itu, ia menggunakan air baku dari sumur bor. Alasannya, air dari perairan umum atau irigasi sudah tercemar, terutama saat musim tanam padi. Jika sudah terserang penyakit, lele diobati dengan oksitetrasiklin (OTC). Khusus mengobati penyakit kuning, Tri mengurangi pakan dan protein. Ia memperkirakan penyakit ini muncul akibat kelebih – an pakan. Termasuk, mengurangi padat tebar hingga 100 ekor/m3.

Kondisi Pasar

Saat ini, ungkap Tri, harga jual lele mulai ber anjak naik setelah sekian lama anjlok sehingga banyak pembudidaya yang me – nyetop usahanya. “Bahkan, harga jual lele di tingkat pembudidaya sempat jatuh ke angka Rp12 ribu/kg sehingga jika mene rus – kan pembesaran bakal rugi karena harga pa – kan pabrikan sudah Rp9.000/kg,” bebernya. Sejak awal puasa 2018 harga jual lele bergerak naik. Mulanya naik hingga Rp15 ribu/kg dan kini mencapai Rp16 ribu/kg. Bahkan, sudah ada yang menjual dengan harga Rp17 ribu/kg. Dengan harga itu, pem budidaya untung dan bisa kembali melanjutkan usaha. Tri memperkirakan, kenaikan harga lele sebagai dampak turunnya pasokan ikan sungai ke pasar seiring datangnya musim kemarau. Ditambah, sedikitnya suplai lele sebab banyak pembudidaya menyetop usaha selama harga jatuh. Ia berharap harga bisa stabil agar usaha pembesaran dan pembenihan lele bisa berkembang.

Menghadapi fluktuasi harga yang ta – jam, Tri menyarankan pembudidaya tidak buru-buru mengganti komoditas karena fluktuasi harga merupakan hukum eko – nomi yang pasti terjadi. Untuk mengana – li sis kemajuan bisnis, pembudidaya harus membuat perhitungan laba-rugi usaha dalam setahun. Terkait pasokan, ia meng – anjurkan pembudidaya menggenjot produksi saat musim kemarau. Suplai air bisa dipenuhi dari sumur bor. Lokasi budidaya di Lampung Tengah tidak perlu membuat sumur terlalu dalam, cukup 20 m karena wilayahnya dekat laut.