1. Adil

Adil berarti memberikan apa yang menjadi hak orang lain dan tidak mengambil hak orang lain. Contoh konkret yang dapat diperlihatkan orangtua, antara lain: tidak membawa kesibukan pekerjaan ke dalam rumah; saat bersama anak, Mama/Papa meletakkan dahulu gadget untuk mendampingi anak menonton televisi, bermain, atau belajar.

Mengajarkan karakter adil pada anak dapat dilakukan, misalnya, dengan cara menggunakan alat permainan secara bergantian atau tidak mengizinkan anak membawa pulang mainan teman meskipun anak kita menangis. Sering kali orangtua terjebak oleh pemahaman yang kurang tepat bahwa bila kakak dibelikan sepatu, maka adik juga dibelikan entah sepatu atau barang lainnya. Padahal, adil itu bukan berarti memberikan perlakuan yang sama.

  1. Percaya Diri

Memberikan motivasi, memberikan kesempatan agar anak berusaha atau mengambil keputusan, memberikan pujian saat berhasil ataupun membesarkan hati anak saat gagal adalah langkah untuk membangun rasa percaya diri anak. Misalnya, bebaskan anak memilih pakaian di lemari yang akan digunakan, biarkan anak mencoba makan sendiri meskipun meja dan pakaiannya akan menjadi lebih kotor. Mendokumentasikan pengalaman anak yang sedang belajar makan secara mandiri, toilet training, atau belajar menyanyi sebenarnya bukan sekadar untuk kenangan, namun juga dapat digunakan untuk meningkatkan rasa percaya diri saat anak mengalami kegagalan atau merasa tidak memiliki kelebihan.

Agar anak percaya diri dalam berbahasa asing, berikut rekomendasi tempat les bahasa Jerman di Tangerang.

  1. Asertif

Yaitu, dapat menyampaikan pendapatnya dengan bahasa yang santun (tidak sarkastik ataupun bertendensi menghina) dan tidak berbelit-belit. Mengajarkan bersikap asertif dapat dilakukan sejak anak mulai belajar bicara. Biasanya di awal belajar bicara, anak cenderung mengeluarkan katakata yang kurang dapat dipahami dan cenderung bersuara keras.

Mama Papa sebaiknya tidak menghina dengan berkata “kamu itu ngomong apa” atau menghardik dan meminta mereka diam karena berisik. Sebaiknya, Mama Papa berlutut sehingga dapat menatap wajah anak, meminta maaf karena belum memahami maksud mereka dan membantu anak untuk menyampaikan maksudnya. Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk membantu anak menyampaikan maksudnya, yaitu orangtua menggunakan kalimat direktif sehingga memudahkan anak untuk menjawab “ya” dan “tidak”, atau meminta anak untuk menunjukkan objek yang dimaksud.